Okei, ini adalah artikel lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu “TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 1: Sejarah Singkat MInuman Kopi.” Setelah dalam PART 1 penulis CirebonKuliner membahas mengenai sejarah singkat minuman kopi, kini penulis akan mengulas mengenai kedai-kedai kopi yang ada di kota Cirebon.

SEBELUM MULAI MELANJUTKAN, PENULIS CIREBONKULINER INGIN BERTERIMAKASIH KEPADA SELURUH NARASUMBER YANG BERPARTISIPASI MEMBERI INFORMASI SEBAGAI SUMBER DASAR PENULISAN ARTIKEL INI. PENULIS JUGA INGIN MENYAMPAIKAN PERMINTAAN MAAF APABILA DALAM ARTIKEL INI TERDAPAT SALAH PENULISAN, ATAU SALAH INFORMASI. UNTUK ITU, APABILA ADA DIANTARA PEMBACA ARTIKEL INI YANG MERASA DIRUGIKAN ATAU MERASA ADA INFORMASI YANG PERLU DILURUSKAN, PENULIS MEMOHON UNTUK SEGERA MENGHUBUNGI PENULIS (crbkuliner@gmail.com / cirebonkuliner@yahoo.com) AGAR KESALAHAN INFORMASI TERSEBUT DAPAT SEGERA DILURUSKAN.

Secara sederhana, di tahun 2015 ini kedai-kedai kopi di kota Cirebon terbagi menjadi 3 skala, yaitu lokal, nasional, dan internasional. Kedai kopi di kota Cirebon dengan taraf internasional di antaranya adalah Starbucks, dan Dunkin Donuts – walaupun brand terakhir ini tidak fokus berjualan pada minuman kopinya. Kemudian ada juga Bangi Kopitiam yang merupakan franchise dari Malaysia.

Pada level nasional, ada merk-merk seperti Excelso, Cuppa Coffee, Coffee Toffee, Lecker, dan J-Co. Kehadiran kedai kopi dengan brand ukuran nasional ini tentunya menambah warna tersendiri di kota Cirebon yang kecil ini. Dan kedai-kedai kopi di kota Cirebon milik warga lokal Cirebon di tahun 2015 ini sudah semakin bertambah, paling tidak, dibandingkan dengan saat tahun 2010-an kemarin, sebut saja, Rockstar, Baraja, Lambada, Vanilla, Roby’s, Pinisi, New Star, Juragan, Djenggo, Lunaira, Rumah Kopi, dan My Story. Kabarnya, masih akan bertambah lagi kedai-kedai kopi di kota Cirebon yang akan didirikan oleh putra-putri asli kota Cirebon. Dan dalam artikel ini, penulis Cirebon Kuliner tidak akan membahas coffee shop berskala nasional, apalagi internasional, namun akan lebih mendalam pada local coffee shops milik para putra / putri Cirebon.

Secara singkat, kedai kopi di kota Cirebon, dahulu ada Coffee 85 di jalan Pemuda, yang kini sudah tutup. Kemudian ada Rockstar Kopitiam yang berdiri sejak pertengahan 2010 dengan lokasi awal di Perumnas Cirebon. Kemudian ada Widita, dan Baraja yang berdiri berbarengan di akhir 2010. Dan di sekitar tahun 2011 ada Kopitiam 62 yang terletak di jalan Yos Sudarso. Namun saat penulis Cirebon Kuliner mendatangai lokasi, penulis Cirebon Kuliner mendapatkan informasi bahwa Kopitiam 62 sudah tidak ada. Disebutkan juga bahwa kini berada di daerah Sumber, Kab. Cirebon, namun belum jelas apakah masih Kopitiam 62, ataukah berbeda brand ataukah sama sekali beda industri (bukan kopi). Dulu juga sempat ada Boss Kopi yang berjualan dengan konsep mobile, dan biasa “mangkal” di kawasan jalan Kartini, namun kini sudah lama tidak nampak.

Dan kini, hingga artikel ini ditulis (Januari-Februari 2015), kedai kopi lokal Cirebon yang paling populer hingga awal 2015 ini adalah “Baraja” Coffee – termasuk yang tertua lahir pada akhir tahun 2010 –  dan “Lambada” Cafe & Resto yang berdiri semenjak pertengahan 2012. Dari segi bisnis, nampaknya Baraja dan Lambada adalah “The Big Two” dalam dunia coffee shop  di kota Cirebon saat ini. Beberapa sebelum Baraja, lebih dulu ada “Rockstar” Kopitiam (berdiri sekitar pertengahan 2010) yang di lokasi awal berada di kawasan Perumnas kota Cirebon, kemudian sempat menjadi idola saat berlokasi di jalan Kartini, dan sempat meredup gaungnya setelah outlet di jalan Kartini tutup, dan hanya outlet yang di Cirebon Gourmet (wilayah Kesambi) yang beroperasi. Kini Rockstar siap mendapatkan namanya kembali setelah saat ini kembali menempati lokasi di jalan Kartini. Kemudian di akhir 2013 ada “Vanilla” Cafe & Boutique yang saat artikel ini dibuat, nampaknya sedang struggling untuk dapat terus beroperasi. Di awal 2014, muncul “Roby’s” Coffee & Tea yang nampaknya, bersama “My Story” Cafe & Bistro yang hadir di akhir 2014 akan siap ikut menemani Baraja dan Lambada di singgasana kesuksesan dunia coffee shop di kota Cirebon. Soon or later, “The Big Two” akan menjadi “The Big Six” jika Vanilla mampu bertahan, jika Roby’s dan My Story mampu bersaing, dan serta jika Rockstar mampu mendapatkan kembali pamornya.

Sedangkan kedai kopi lokal Cirebon lainnya seperti “Pinisi” Coffee, “New Star” Kopitiam, “Juragan” Coffee, Gerobak Kopi “Djenggo”, “Lunaira” Coffee, dan “Rumah Kopi”, adalah nama-nama yang mencoba “bermain” di sektor bawah dulu. Iya, kedai-kedai kopi “kecil” ini hadir di kota Cirebon mencoba memuaskan para pecinta dan penikmat kopi di kota Cirebon, dengan penampilan yang lebih sederhana, dengan peralatan yang lebih sederhana, juga tentunya dengan harga yang lebih “sederhana” juga, soal rasa, kopi adalah selera bagi setiap penikmatnya. Tentu, kedai-kedai kopi ini juga memiliki penggemarnya masing-masing. Oiya, kecuali Pinisi Coffee dan New Star Kopitiam yang berlokasi di CSB Mall kota Cirebon, mencoba menggaet penikmat kopi yang berkunjung ke CSB Mall.

Ya, kembali ke para pemain besar. Rockstar, Baraja, Lambada, Vanilla, Roby’s dan My Story ini memiliki penampilan dan style yang berbeda. Rockstar” Kopitiam yang sudah ada semenjak pertengahan 2010, pada awalnya berada di Perumnas Cirebon. Satu tuhan kemudian pindah lokasi ke jalan Kartini kota Cirebon, dimana di lokasi ini Rockstar sempat menuai popularitas, namun kemudian tutup karena persoalan sengketa lahan. Sempat tutup, dan hanya outlet yang di Cirebon Gourmet (Kesambi) yang beroperasi, kini di awal 2015 Rockstar Kopitiam kembali beroperasi di lokasi lama, di jln Kartini Cirebon. Jika dari embel-embelnya – kopitiam – Rockstar hadir menawarkan kopi-kopi ala Melayu (yang dibrew tidak menggunakan mesin espresso). Ya, karena dalam bahasa  Melayu, kopitiam berarti warung kopi dalam bahasa Indonesia. Namun, Rockstar juga memiliki kopi-kopi dengan basic espresso yang dibuat dengan mesin espresso standar cafe. Saat kembali hadir di jalan Kartini, Rockstar nampaknya mulai “merangkak” lagi setelah sebelumnya sempat redup. Iya, kini setelah kembali menempati lokasi di jalan Kartini – dengan beberapa penambahan space tempat – dengan penampilan yang juga atrractive di jalan Kartini kota Cirebon, langsung menghadap ke pengguna jalan, Rockstar nampaknya sudah sangat siap untuk kembali menjadi salah satu coffee shop terpopuler di kota Cirebon.

“Baraja” Coffee (berdiri sejak akhir 2010) hadir dengan penampilan yang menurut penulis Cirebon Kuliner, paling attractive. Mengapa? Baraja Coffee tampil seperti cafe-cafe pinggir jalan di kota Paris, Perancis dengan kursi & meja persis di bahu jalan. Berada di tepat di pusat kota Cirebon. Kehadiran Baraja Coffee tentunya menjadi pemandangan yang sangat khas. Selain itu, bagi para penikmat kopi atau pengunjung Baraja, posisi dan konsep seperti ini tentunya memberi atmosfir, atau ambience tersendiri. Soal menu, selain minuman kopi yang dibrew dengan mesin espresso standar cafe tentunya, Baraja juga menawarkan berbagai racikan teh, minuman coklat, dan berbagai pilihan menu makanan yang tidak terlalu berat sebagai teman minum kopi / teh / coklat. Sampai saat ini, Baraja Coffee masih selalu ramai dipadati para penggemar setianya yang ingin menikmati tempat nyaman di Baraja dan macam-macam menunya untuk berbagai keperluan. Ya, Baraja, somehow, selalu memiliki daya tarik bagi masyarakat Cirebon yang mencari cafe untuk nongkrong bersama kawan, atau untuk mengerjakan tugas kantor/kuliah/sekolah, atau sendirian untuk betul-betul menikmati kopi. Satu lagi, hingga saat ini, Baraja masih menjadi satu-satunya coffee shop yang buka 24 jam. Bagi para penikmat kopi yang ingin menikmati espresso atau cappuccino di pagi hari, atau di sore waktu senja, maka Baraja adalah tempat yang sangat sangat tepat.

Tampak Depan BARAJA

Baraja Latte & Pancake Saus Mangga ala BARAJA

“Lambada” Cafe & Resto (berdiri pertengahan 2012), hadir dengan lebih “eksklusif”, karena selain lokasinya yang berada di lantai atas dari sebuah ruko tempat berjualan handphone di tengah kota Cirebon, juga bagian dalam dari Lambada Cafe & Resto juga memang didesain dengan konsep – yang menurut penulis Cirebon Kuliner – sangat apik, terlebih untuk ukuran kota Cirebon. Bagi para pengunjung Lambada yang mungkin bukan penikmat kopi, nampaknya Lambada juga memberi kenyamanan lebih, sehingga sampai saat ini Lambada masih menjadi salah satu cafe lokal terbaik di kota Cirebon. Jika saja, Lambada hadir dengan lokasi yang lebih oke lagi, misalnya, dengan lahan parkir yang lebih baik, dan memiliki lantai bawah, penulis Cirebon Kuliner yakin, Lambada akan menjadi lebih great lagi. Terlebih, jika jam operasinya yang apabila dimulai dari pagi hari, karena saat ini Lambada beroperasi setiap hari dari mulai pukul 16:00 hingga sekitar 02:00 dini hari, atau bisa hingga waktu subuh jika ada event tertentu.

Tampak depan LAMBADA

Pancake ala LAMBADA

Cappuccino ala LAMBADA


“Vanilla” Cafe & Boutique, pada awal berdirinya, sebetulnya sempat menjadi salah satu alternatif bagi para “pencari cafe” di kota Cirebon. Selain kopinya, para penggemar Vanilla (terutama para wanita) juga bisa berbelanja pakaian di butik yang berada tepat di sebelah cafe-nya. Namun sayang, saat artikel ini dibuat (Jan 2015), Vanilla nampaknya sedang berada pada kondisi yang tidak prima. Penulis Cirebon Kuliner sangat berharap Vanilla Cafe & Boutique dapat terus bertahan – apapun problematikanya – sehingga Vanilla bisa menjadi kedai kopi lokal andalan kota Cirebon dan menjadi salah satu “The Biglocal coffee shop di kota Cirebon.

“Roby’s” Coffee & Tea, yang hadir di sekitaran kwartal awal 2014, nongol di kota Cirebon dengan konsep yang secara konvensional, diminati para kawula muda “pencari cafe”. Roby’s hadir agak minggir dari pusat kota Cirebon, di sebuah ruko 2 lantai, dengan konsep desain yang cukup nyaman. Selain itu, berdasarkan informasi yang penulis Cirebon Kuliner dapatkan langsung dari sang owner, Roby’s memiliki visi bisnis yang sangat siap. Sang pemilik langsung mendaftarkan logo dari cafe besutannya ini, dan mematok target untuk mem-franchise-kan cafenya ini dalam beberapa waktu ke depan. Pemilik Roby’s cafe juga mengungkapkan bahwa cafe miliknya ini lebih berkonsep American style, dengan salah identitasnya adalah dengan penggunaan berbagai macam flavoured syrup ke dalam berbagai macam minuman kopi dan teh racikannya. Dan nampaknya, hingga sampai artikel ini dibuat, Roby’s Coffee & Tea masih bertahan dan diminati para penggemarnya. Iya, bagi para cafe hunter atau penikmati kopi yang ingin suasana dan atmosfer yang lebih tenang jauh dari keramaian kota, dengan harga yang maish make sense, maka Roby’s Coffee & Tea adalah jawabannya. Roby’s buka dari pukul 10:00 pagi hari hingga pukul 3 dini hari. Mau ngopi pagi atau nongkrong sampe pagi? Silahkan..

Kedai kopi lokal yang belakangan hadir di akhir 2014, awal 2015 di kota Cirebon adalah “My Story” Cafe & Bistro. Bistro?? Iya, konsep bistro yang coba dihadirkan oleh My Story ini tentunya akan semakin meramaikan warna dari dunia kuliner di kota Cirebon, khususnya dunia per-cafe-an dan perkopian di kota Cirebon. Namun sampai saat artikel ini dibuat, penulis Cirebon Kuliner belum berkesempatan mengunjungi langsung My Story. Namun dari namanya, My Story bakal menwarkan suguhan kopi khas hasil brewing mesin espresso, dan dengan konsep bistro, My Story juga nampaknya bakal menghadirkan berbagai menu makanan yang – seharusnya – cukup elegan. Karena bistro – menurut sejarah latar belakanganya – adalah restoran kecil di kota Paris yang menghadirkan menu makanan dengan harga menengah, namun dengan penampilan yang tetap elegan layaknya makanan ala Perancis pada umumnya. Kita tunggu saja, sampai nanti penulis Cirebon Kuliner berkesempatan berkunjung dan membuat ulasannya. Atau… semoga, owner My Story Cafe & Bistro membaca artikel ini dan berbaik hati mengundang penulis Cirebon Kuliner untuk datang berkunjung ke cafe miliknya. Oiya, satu hal yang membuat penulis Cirebon Kuliner cukup salut adalah fakta bahwa My Story didirikan di lokasi yang bukan merupakan jantung kota Cirebon. Keberanian ini bisa menjadi contoh bagi para pebisnis lainnya, terlebih jika sampai My Story Cafe & Bistro menuai sukses dimasa depan.

Oke, sekarang mari bahas kedai-kedai kopi lokal berskala sederhana di kota Cirebon. Juragan Coffee hadir di kantin masjid At-Taqwa kota Cirebon, juga dengan konsep mobile dengan menggunakan mobil, dan biasa “mangkal” di pusat jajanan kakilima yang saat ini lagi ngetren, yaitu di kawasan depan ex-pabrik rokok BAT. Juragan hadir menyajikan minuman kopi dengan mesin espresso standar rumahan, namun tetap cukup untuk membuat kopi enak – sekali lagi, kopi adalah “pakaian” bagi para penikmatnya, enak/tidaknya, tergantung bagaimana style sang pemakai “pakaian” tersebut. Djenggo hadir di kawasan Brigjen Dharsono bypass, Lunaira hadir di kawasan jalan Yos Sudarso (Cangkol) kota Cirebon, sedangkan Rumah Kopi hadir di sekitaran lampu merah Drajad-Kesambi (Jabang Bayi). Mereka semuanya hadir dengan lebih membumi, lebih sederhana, lebih me-masyarakat.

Penulis Cirebon Kuliner yang masih awam soal kopi ini berpikir bahwa nikmatnya secangkir kopi tidak diukur dari murah atau mahalnya alat atau mesin yang digunakan untuk meracik minuman kopi itu. Bagi para penikmatinya yang lebih suka kopi sachet atau kopi instan, maka kopi instanlah yang paling nikmat, dan bisa jadi, minuman kopi “fancy” ala cafe yang dibuat dengan mesin espresso standar cafe, tidak senikmat kopi instan menurut mereka. Semuanya soal preferensi para penikmat kopi. Tidak ada salahnya menyukai kopi instan. Begitu juga yang lebih menyukai sesuatu yang mewah, sah-sah saja.

Secara singkat, penulis Cirebon Kuliner memperhatikan bahwa kehadiran coffee shops di kota Cirebon ini masih dinikmati tempatnya saja, belum kopinya. Mungkin karena sebagian besar masyarakat kota Cirebon sebagai konsumen kedai kopi masih tidak terlalu passionate dengan minuman kopi itu sendiri, dan berpikir kurang lebih “Masa bodoh dengan minuman kopinya seperti apa atau bagaimana, yang pentingnya tempatnya oke, nyaman, apalagi harganya terjangkau.” Jadi, iya, sekali lagi, yang lebih dibeli masyarakat selaku pengunjung kedai kopi adalah tempatnya, belum membeli kopinya.


Iya, dari sisi konsumen coffee shop di kota Cirebon, mungkin hanya sekitar 10-15% saja yang memiliki wawasan lebih mengenai kopi, atau yang merupakan penikmat kopi, yang datang ke coffee shop di kota Cirebon yang bertujuan betul-betul murni untuk menikmati satu atau dua cangkir kopi favoritnya. Kebanyakan, masih “masa bodoh dengan kopinya.” Dan beberapa konsumen lainnya datang ke coffee shop dengan tujuan yang berbeda-beda pula, ada yang bertemu relasi bisnis, ada yang hangout bersama kawan-kawan, ada yang mengerjakan pekerjaan kantor/kampus/sekolah, dan sekali lagi, masih sangat-sangat minim pengunjung yang datang untuk menikmati kopi dan menikmati ambience di kedai kopi itu. Persoalan ini, akan penulis Cirebon Kuliner bahas lebih dalam pada part 3, yaitu “TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Kedai Kopi di Cirebon.”

Kesimpulan dari PART 2 ini adalah, dari segi bisnis, di awal 2015 “Baraja” Coffee dan “Lambada” Cafe & Resto masih menjadi pemimpin di dunia coffee shop di kota Cirebon sebagai “The Big Two“. “Rockstar” Kopitiam sudah siap kembali mendapatkan golden age-nya. “Vanilla” Cafe & Boutique terus berjuang untuk menjadi salah satu coffee shop andalan kota Cirebon. “Roby’s” Coffee & Tea dan “My Story” Cafe & Bistro siap membayangi kesuksesan “The Big Two.

Sampai jumpa di “TREN COFFEE SHOP DI CIREBON | PART 3: Para Konsumen Coffee Shop di Cirebon.”

SEKALI LAGI, APABILA ADA DIANTARA PEMBACA ARTIKEL INI YANG MERASA MEMILIKI INFORMASI YANG PERLU DITAMBAHKAN KE DALAM ARTIKEL INI, ATAU APABILA ADA INFORMASI DALAM ARTIKEL INI YANG PERLU DILURUSKAN, DAN ADA DIANTARA PEMBACA YANG MERUPAKAN PIHAK YANG RELEVAN UNTUK MELURUSKANNYA, PENULIS MOHON UNTUK SEGERA MENGHUBUNGI PENULIS, AGAR KEKELIRUAN INFORMASI DALAM ARTIKEL INI DAPAT SEGERA DILURUSKAN.

TERIMAKASIH KEPADA SELURUH PIHAK YANG SUDAH MENJADI NARASUMBER UNTUK PENULISAN ARTIKEL INI. DAN MOHON MAAF ATAS SEGALA KEKURANGAN/KESALAHAN YANG ADA.