Khususnya masyarakat kota Cirebon, dan umumnya para penikmat kuliner tradisional, yang perduli akan karakter dan identitas asli kuliner tradisional, tentunya kritis akan hal tersebut. Penulis Cirebon Kuliner ambil contoh sederhana tentang nasi Jamblang khas Cirebon. Identitas sejati dari nasi Jamblang khas Cirebon adalah dari nasinya yang dibungkus daun jati, bukan sekedar dialasi daun jati.

Maksudnya? Bagi yang kritis, tentu akan jeli bahwa saat ini ada beberapa penjual nasi Jamblang khas Cirebon yang populer di kota Cirebon, bahkan sampai luar kota Cirebon, yang menyajikan nasi Jamblang dengan daun jati hanya sebagai alas saja. Artinya, nasinya tidak dibungkus daun jati dari awal persiapan berjualan. Ya, nasinya diambil hangat-hangat, lalu ditaruh di atas daun jati. Sedangkan nasi Jamblang yang sejati adalah nasinya yang dari awal persiapan berjualan di pagi hari, dibungkus daun jati, sehingga saat disajikan kepada konsumen, nasinya memiliki karakter khas yaitu tidak hangat (orang Cirebon sebut dengan istilah “anyeb”, dan beraroma khas dari daun jati.

Namun begitu, masih banyak juga penjual nasi Jamblang yang menyajikan nasi Jamblang sebagaimana seharusnya, terutama para penjual nasi Jamblang dalam skala kecil, atau kaki lima pinggir jalan. Salah satu dari beberapa penjual nasi Jamblang yang masih otentik khas Cirebon adalah penjual nasi Jamblang yang biasa berjualan di jalan Panjuanan.

Begini tampilan secara umum nasi Jamblang yang otentik. Dibungkus daun jati, dan diwadahi di sebuah cepon tradisional.

Nasi Jamblang “Pak Jaenal” Jln. Panjunan kota Cirebon ini biasa buka dari jam 7:30 pagi hari dan sudah tutup di siang hari setelah waktu Dhuhur (sekitar pukul 1 siang hari). Penjualnya, yang asli Cirebon ini, biasa dari waktu subuh mengambil stock ke asli daerah Jamblang. Iya, dari situ nasinya sudah dibungkus daun jati, sebagai identitas sejati nasi Jamblang.

Saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung dan mencicipi pun tentu, memiliki sensasi yang berbeda. Dengan menikmati nasi Jamblang asli dan otentik, di warung kecil di pinggir jalan di kota Cirebon, tentu memberi pengalaman tersendiri, terutama bagi mereka yang merupakan penikmat atau pemburu kuliner yang kritis mencari kuliner-kuliner tradisional yang masih mempertahankan identitas sejati dari sebuah hidangan kuliner.


Rasa dan tekstru nasinya khas, sajian lauk pauknya pun khas, harganya pun sangat terjangkau. Dengan pelayanan ekstra yaitu ngobrol ngalor ngidul dalam bahasa Cirebon, pengalaman menikmati nasi Jamblang khas Cirebon pun tidak hanya dari nikmatnya cita rasa khas dari kulinernya itu sendiri, tetapi juga experience lain dari suasana pagi pinggir jalan, dan lapak warung kecil nan sederhana. Para pembaca Cirebon Kuliner setuju?

Kalau setuju, lalu bagaimana dengan para penjual nasi Jamblang berskala besar nan populer sampai luar kota namun tidak mempertahankan identitas asli nasi Jamblang yang dibungkus daun jati? Ya biarkan saja, karena dunia kita butuh keseimbangan. Selalu ada yang di atas dan yang di bawah. Karena Tuhan pun menciptkana segalanya dengan keseimbangan. Yang penting, bagi para penjual kuliner tradisional, pertahankan ke-tradisional-annya, supaya generasi berikutnya tetap bisa menikmati bagaimana aslinya kuliner tradisional yang sejati.

Nasi Jamblang khas Cirebon yang otentik, nasi Jamblangnya dibungkus daun jati, disajikan tidak hangat, dan memiliki aroma khas dari daun jati.