Di sepanjang jalan Kartini kota Cirebon mungkin terdapat beberapa penjual nasi goreng, tapi yang menetap di lokasi yang sama dan selalu ramai setiap malam mungin hanya ada dua, yaitu Nasi Goreng “Pak Gun” yang pernah diulas penulis Cirebon Kuliner, dan satu lagi yang sedang diulas penulis Cirebon Kuliner saat ini, Nasi Goreng “Kartini.”

Penulis Cirebon Kuliner sendiri awalnya bingung akan memberi nama apa pada nasi goreng yang satu ini karena tidak “merk” atau plang nama di depannya. Oleh karena itu penulis Cirebon Kuliner namai saja sesuai  nama jalan tempat nasi goreng ini berlokasi.

Baik Nasi Goreng “Pak Gun” dan juga Nasi Goreng “Kartini” ini sama-sama menggunakan bara api sebagai sumber panas untuk memasak hidangan-hidangannya. Metode ini tentu memberi daya tarik tersendiri kepada para pelanggannya. Karena selain berkesan unik, metode penggunaan bara api ini juga dipercaya memberi cita rasa yang khas pada hasil hidangan yang dimasaknya.

Ini yang membuat cita rasanya khas. Penggunaan bara api sebagai sumber panasnya.

Indikasinya mungkin mudah saja, terlihat dari para pelanggan yang selalu datang meramaikan Nasi Goreng “Kartini” di malam hari. Saat penulis Cirebon Kuliner datang berkunjung pun begitu, sedang ramai oleh para pelanggannya. Penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi nasi goreng ala Nasi Goreng “Kartini.”

Dari rasa, walaupun penulis Cirebon Kuliner bukan penggemar nasi goreng, tapi nasi goreng ala Nasi Goreng “Kartini” ini memang bercita rasa berbeda dibangingkan dengan nasi goreng yang dimasak dengan menggunakan gas elpiji sebagai sumber panasnya. Jadi, bagi yang penasaran, silahkan datang dan icip nasi goreng “Kartini” di jalan Kartini, sebelum rel kereta api dari arah alun-alun Kejaksan. Oiya, satu porsi nasi goreng di sini hargaya Rp 9.000,-.