Apa sih bedanya mie yamien dan mie ayam? Pertanyaan itu yang masih sering Cirebon Kuliner dengar dari masyarakat kota Cirebon. Untuk itu, Cirebon Kuliner mencoba menelusuri sedikit apa dan bagaimana sejarah mie yamien di kota Cirebon. Supaya kita semua mendapatkan informasi yang lebih menyeluruh.

Dari berapa kunjungan ke warung-warung mie yamien di kota Cirebon, akhirnya Cirebon Kuliner berkesempatan menggali sedikit mengenai sejarah mie yamien di kota Cirebon. Terimakasih sebelumnya Cirebon Kuliner sampaikan untuk Pak Edom, selaku pemilik dari mie yamien Warkad “Pak Edom” yang sudah mau berbagi sedikit banyak cerita sejarah mie yamien di kota Cirebon.

“Warkad” adalah warga desa Kadupandak, kota Ciamis
“Prancis” adalah Peranakan Ciamis

Secara mendasar, kuliner mie ini berasal dari negeri Cina yang membawa kuliner mie ke Indonesia, termasuk ke beberapa negara lainnya. Di beberapa kota di Indonesia, hidangan mie berkembang menjadi berbagai varian.

Menurut Pak Edom, pada tahun 1967, ada 4 orang mahasiswa asal kota Ciamis yang berkuliah di kota Bandung. Dan untuk menutupi kebutuhan hidupnya sambil berkuliah, keempat mahasiswa ini bekerja pada pedangan mie keturunan Cina. Dari bekerja berjualan mie ala Cina inilah keempat mahasiswa asal kota Ciamis ini mendapatkan ilmu membuat hidangan kuliner mie.

Pada awalnya, mie khas Cina ini memakai daging babi. Namun seiring berkembangnya waktu. tentunya dengan pertimbangan kehalalan juga, mie ini tidak lagi menggunakan unsur babi di dalamnya. Kemudian singkat cerita, populerlah hidangan mie ini dengan sebutan mie baso Bandung. Ada pula yang menyebutnya mie yamien. Konon, kata yamien berasal dari nama kota di Cina, Yamien. Namun, informasi ini belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya terlebih setelah Cirebon Kuliner telusuri tidak menemukan adanya kota Yamien di negara Cina.


Lalu, ilmu dan keahlian membuat mie yamien yang dimiliki para mahasiswa asal Ciamis ini menyebar ke warga lainnya di kota Ciamis, khususnya warga Desa Kadupandak. Dan pada tahun 1970-an, beberapa warga Kadupandak merantau ke kota Cirebon dan mencari penghasilan dengan berjualan mie yamien dengan ilmu dasar yang mereka dapatkan dari membuat mie baso Bandung yang populer itu.

Saat memasuki kota Cirebon di tahun 1970-an, menurut Pak Edom, di kota Cirebon sudah ada penjual hidangan mie yang serupa dengan mie yamien yang biasa mereka buat. Hidangan mie ini yang mereka sebut dengan mie “Ncek”. Nama ini didapat karena yang berjualan adalah warga Cirebon keturunan Cina, yang biasa disebut dengan sebutan “Ncek”. Nah, mie Ncek ini juga pernah Cirebon Kuliner ulas dengan judul mie kipit, dan ada juga yang Cirebon Kuliner beri judul mie yamien khas Cirebon. Ini adalah beberapa ulasan mie yamien khas Cirebon:
dan masih ada beberapa lagi ulasan mie yamien khas Cirebon

Namun begitu, mie yamien khas Cirebon, dengan mie yamien khas warga Ciamis ini memiliki cita rasa yang sedikit berbeda. Dimana mie yamien khas Cirebon terasa lebih gurih, sedangkan mie yamien warga Ciamis atau mie baso Bandung terasa lebih manis. Secara penampilan, kurang lebih sama, satu mangkuk mie dengan bumbu kering, dengan topping suwiran daging ayam kering, lengkap dengan kuah dalam mangkok terpisah berisi baso, pangsit basah, tahu, dan beberapa versi komplit berisi isian lainnya seperti baso-tahu, pangsit kering, dan lain-lain.

Sedangkan kata “Warkad” dalam mie yamien Warkad adalah singkatan, yang kepanjangannya adalah “Warga Kadupandak” yang seperti Cirebon Kuliner utarakan adalah nama Desa di kota Ciamis dimana para warganya mendapatkan ilmu membuat mie ini dari keempat mahasiswa yang berkuliah di kota Bandung pada tahun 1960-an, dengan bekerja pada warga Bandung keturunan Cina yang berjualan mie baso. 

Di kota Cirebon, mie yamien nampaknya ada dua versi secara cita rasa, yaitu mie yamien khas kota Cirebon yang banyak berada di wilayah jalan Pandesan, jalan Pekalangan dan sekitarnya, dan mie yamien khas Warkad atau warga desa Kadupandak kota Ciamis. Walaupun tidak jauh berbeda, namun tetap saja masing-masing memiliki identitas di cita rasanya yang khas. Mana yang paling enak? Sesuai selera saja…

Jadi, berdasarkan pemaparan Cirebon Kuliner di atas, kuliner mie dengan segala variannya, cikal bakalnya dibawa oleh warga keturunan Cina, yang kemudian di masing-masing kota di Indonesia berkembang sesuai kondisi daerah masing-masing. Dan salah satu variannya, yaitu mie yamien, atau mie baso Bandung, atau ada juga yang menyebutnya bakmi, dimana ketiga varian ini memiliki presentasi visual yang tidak jauh berbeda.

Mie yamien khas Cirebon, mie baso Bandung, berdasarkan informasi dari Pak Edom, berasal dari ilmu yang didapat dari pedagang mie keturunan Cina, di kota Bandung, yang kemudian diserap oleh warga Ciamis, lebih spesifiknya warga Desa Kadupandak kota Ciamis, yang biasa disingkat “Warkad”. Kemudian mie “Warkad” ini menyebar ke kota Cirebon yang sebetulnya sudah memiliki mie yamien khas-nya sendiri yang sebetulnya masih “senada” karena juga diperkenalkan oleh pedagang keturunan Cina juga.

Oiya, sekedar selingan informasi, perbedaan mie ayam dengan mie yamien (atau juga bakmi) adalah:
1. Mie Ayam menggunakan tiopping daging ayam yang berbumbu basah. Mie Yamien menggunakan topping daging ayam yang cenderung kering dan bumbu sederhana.

2. Mie pada Mie Ayam cenderung lebih tebal, sedangkan mie pada Mie Yamien cenderung lebih tipis dan lebar biasanya. Sedangkan bumbunya kurang lebih sama.

3. Mie Ayam tidak hadir dengan kuah terpisah. Sedangkan Mie Yamien hadir dengan kuah dalam mangkok terpisah yang juga berisi bahan lain seperti baso, tahu, dan pangsit. Pada beberapa versi yang lebih komplit, berisi juga pangsit kering, tahu-baso, siomay, dan lain-lain.

Secara teknis, sama-sama mie yang diberi daging ayam, namun secara terperinci, jelas berbeda. Penampilan berbeda, rasa berbeda, sampai gerobak khas yang digunakan pun berbeda. Semoga ulasan ini dapat bermanfaat. Bagi yang memiliki informasi lebih untuk melengkapi artikel ulasan ini, silahkan share di comment ya.

Informasi tambahan lagi, mie yamien “Warkad” di kota Cirebon saat ini yang paling populer adalah mie baso Pak Etom yang berada di jalan Karanggetas. Pak Etom adalah kakak kandung dari Pak Edom, yang berjualan di jalan Tentara Pelajar saat ini (2016). Informasinya, Pak Edom akan pindah lokasi. Beliau ini adalah empat bersaudara, Ekom, Ewon, Etom, dan Edom.

Semoga, kuliner-kuliner tradisional yang sederhana ini tetap dapat bertahan dan lestari sampai kapanpun sehingga bisa terus dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Penampilan khas tipikal mie yamien. Di daerah tertentu seperti di beberapa kota di Jawa Tengah, disebut dengan Bakmi.

Cirebon Kuliner bersama Pak Edom, bungsu dari Ekom, Ewon, Etom, dan Edom.