Jalan Lemahwungkuk kota Cirebon memang memiliki daya tarik tersendiri. Baik pagi, siang, sore, maupun malam hari, jalan Lemahwungkuk ini nampaknya selalu ramai. Pagi hari diramaikan oleh masyarakat kota Cirebon yang mencari sarapan atau ada keperluan berbelanja di Pasar Kanoman. Siang harinya, ada wisatawan lokal yang datang berkunjung untuk berbelanja oleh-oleh. Di sore hari, jalan Lemahwungkuk mulai berubah suasana karena mulai banyak pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai macam kuliner. Dan di malam harinya, ada beberapa kuliner yang populer di kawasan jalan ini, seperti Sate Kalong khas Cirebon, dan Nasi Kucing misalnya.

Salah satu tempat makan yang sudah lama berdiri adalah tempat makan Mie “Pecinan” yang menjual berbagai macam kuliner peranakan khas masyarakat keturunan Tionghoa, sebut saja, kwetiauw, mie, lo mie, misoa kuah, bubur mie, dan lain-lain. Di pagi hari, Mie “Pecinan” ini biasa didatangi para pelanggannya, terutama dari kalangan warga keturunan yang ingin mencari sarapan pagi.


Penulis Cirebon Kuliner pun tertarik untuk datang berkunjung dan mencoba salah satu menunya. Penulis Cirebon Kuliner datang di pagi hari sekalian mencari menu sarapan. Dan yang penulis Cirebon Kuliner pesan adalah kwetiauw goreng yang komplit dengan isian udang, baso, dan lain-lain. Dengan krupuk dan satu gelas teh tawar hangat, menu ini dijual seharga Rp 20.500,-. Soal rasa, memiliki cita rasa yang sedikit berbeda dibandingkan dengan kwetiauw yang dijual bukan oleh penjual keturunan Tionghoa.

Jadi, bagi masyarakat kota Cirebon, terutama warga keturunan, yang ingin mencari menu sarapan pagi, boleh coba Mie “Pecinan” di jalan Lemahwungkuk kota Cirebon, tidak jauh dari Pasara Tradisional Kanoman kota Cirebon.