Di Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon ada satu penjual baso yang penulis Cirebon Kuliner perhatikan semakin merangkak sukses. Penjual ini dahulu berjualan dengan gerobak dorong khas penjual mie baso keliling, dan biasa mangkal di tempat pencucian sepeda motor di salah satu spot jalan Desa Setu Kulon yang tembus ke jalan Raya Plered-Sumber.

Saat berjualan masih menggunkan gerobak dorong, baso miliknya selalu laris digemari oleh masyarakat sekitar. Kini, penjual baso ini telah mendirikan sebuah warung kecil dan sederhana di tempatnya biasa mangkal, di salah satu rumah warga yang terdapat tempat pencucian motor. Dan warung baso sederhana ini diberi nama “Mekar Sari.”

Mie Baso “Mekar Sari” memang tipe mie baso ala Solo yang sederhana dan bercita rasa khas yang banyak digemari masyarakat kita Indonesia. Berbeda dengan Mie Yamien (Bakmie), juga Mie Ayam, Mie Baso khas Solo biasanya disiram kuah langsung di mangkok berisi baso dengan mie kuning, atau bihun, atau bisa juga so’un, tergantung selera.


Mie baso ala ‘kampung’ semacam inilah yang dijual di warung Mie Baso “Mekar Sari.” Hingga kini, Mie Baso “Mekar Sari” masih ramai dikunjungi para penggemarnya di kawasan Desa Setu Kulon Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon.

Bukan tidak mungkin kalau Mie Baso “Mekar Sari” ini ke depannya akan semakin ramai dengan cerita masyarakat sekitar dari mulut ke mulut. Dan dengan semakin larisnya, bukan tidak mungkin juga jika warung Mie Baso “Mekar Sari” ini akan semakin besar dengan bangunan yang lebih permanen dan layak dengan lokasi yang lebih baik juga.

Bagi yang penasaran, silahkan coba Mie Baso “Mekar Sari” di Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, hanya beberapa puluh meter saja dari kantor TELKOM di jalan raya Plered-Sumber. Oiya, satu mangkok mie baso di warung Mie Baso “Mekar Sari” ini hanya Rp 7.000,- saja.