Kecap cap "SARI UDANG"


Kecap, atau soy sauce dalam bahasa Inggris adalah salah satu bumbu masak yang sangat umum digunakan masyarakat Indonesia dalam berbagai masakan khas Indonesia. Bumbu masakan yang kental berwarna coklat kehitaman dan terbuat dari sari pati kacang kedelai ini memang merupakan salah satu "syarat" utama dalam berbagai macam masakan khas Nusantara karena kecap memang menambah cita rasa pada masakan yang dibuat. Baik yang digunakan adalah kecap manis, manis sedang, ataupun kecap asin.

Saat ini, sudah ada banyak merk kecap yang populer bagi masyakarat Indonesia. Sebut saja, kecap Bango, ABC, Indofood, Nasional, Sedaap, dan masih ada beberapa lagi. Namun sebetulnya, bagi masyarakat Indonesia terutama di daerah, ada merk-merk tertentu yang justru lebih populer dibandingkan merk-merk yang sudah lebih terkenal.

Seperti di kota Cirebon, ada banyak sekali merk kecap yang cukup populer, sudah ada sejak lama, dan masih bertahan hingga saat ini walaupun dengan persaingan bebas dengan merk-merk ternama. Salah satu merk yang terkenal se-kota Cirebon adalah kecap cap "Matahari". Iya, kecap asli kota Cirebon ini banyak digunakan oleh pemilik-pemilik warung nasi Lengko khas Cirebon, juga digunakan di berbagai masakan rumahan.




Di level Kabupaten, ada satu merk yang sudah semenjak tahun 1980-an ada dan masih bertahan hingga sekarang dan masih memiliki konsumen loyalnya, yaitu Kecap cap "Sari Udang." Kecap cap "Sari Udang" awalnya memiliki lokasi pabrik di daerah Desa Setu Wetan, Kecamatan Weru Kidul, Kabupaten Cirebon (dareah Plered). Namun di sekitar tahun 2012-2013 pindah lokasi ke daerah Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon.

Kecap cap "Sari Udang" mengalami masa jaya di sekitar tahun 1990-an hingga tahun 2000-an. Pelanggan Kecap cap "Sari Udang" terutama di daerah Kabupaten Cirebon wilayah Barat mulai dari daerah Plered, Jamblang, Palimanan, Arjawinangun, hingga ke daerah Indramayu seperti Jatibarang, dan Wanguk. Kecap cap "Sari Udang" juga memiliki agen tunggal di kota Bandung. Hingga akhirnya mulai tahun 2003 Kecap cap "Sari Udang" mengalami berbagai pasang surut dalam berbisnis, namun terus bertahan hingga artikel ini dibuat pada Juli 2014.

Di masa jayanya, Kecap cap "Sari Udang" merupakan merk kecap paling populer digemari di tingkat Kabupaten Cirebon. Dan hingga, banyak masyarakat Cirebon yang tidak asing dengan merk ini, terutama masyarakat di wilayah Kabupaten Cirebon. Seperti yang ditulis penulis Cirebon Kuliner di awal, sebetulnya banyak sekali merk-merk kecap di Cirebon, yang asli buatan masyarakat Cirebon yang beredar di pasaran, namun hanya beberapa saja yang bisa berusia tua dan masih bisa bertahan hingga saat ini, dan Kecap cap "Sari Udang" adalah salah satu yang terbaik dan masih bertahan.

Semoga industri-industri tua di Cirebon yang merupakan warisan lama dapat terus bertahaan di tengah persaingan usaha yang semakin ketat ini, sehingga di masa depan kota Cirebon memiliki banyak merk di berbagai produk yang dapat dibanggakan di kemudian hari, baik dalam tingkat kota Cirebon, maupun dalam tingkat nasional.

Gado-Gado Uleg "Ibu Yati" Jln. Panjunan


Satu lagi warung penjual gado-gado uleg diulas penulis Cirebon Kuliner. Kali ini yang mangkal berjualan di kawasan jalan Panjunan kota Cirebon. Nama warungnya, sesuai nama sang pemilik sekaligus pembuat gado-gado uleg, yaitu warung Gado-Gado Uleg "Ibu Yati." Warung Gado-Gado Uleg "Ibu Yati" jalan Panjunan kota Cirebon ini menjual dua jenis gado-gado, yaitu gado-gado uleg, dan gado-gado ayam atau gado-gado kuah.

Cukup banyak memang penjual gado-gado uleg di kota Cirebon, namun hanya beberapa saja yang memiliki rasa yang enak dan populer di kota Cirebon. Untuk itu, penulis Cirebon Kuliner mencoba menjajal bagaimana rasa dari gado-gado uleg ala Ibu Yati di jalan Panjuanan ini. Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner menyempatkan diri untuk sedikit berbincang-bincang dengan Ibu Yati. Ternyata, Ibu Yati sudah cukup lama berjualan, namun dulunya Ibu Yati berjualan gado-gado di daerah lain di kota Cirebon, dan baru pindah beberapa bulan saja di jalan Panjunan saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung.

Warungnya yang kecil, di pinggir jalan, dan tanpa meja ini memang sangatlah sederhana dan sangat mencerminkan potret usaha kecil masyarakat kecil di Indonesia, dimana kebanyakan masyarkat kecil Indonesia berjualan dengan modal seadanya, yang akhirnya menghasilkan penampilan seadanya, tempat seadanya, namun, tidak sedikit yang memiliki kualitas barang jualan yang tidak seadanya. Banyak masyarakat Indonesia yang kini sukses, berawal dari berbisnis kuliner dari posisi yang betul-betul di bawah.


Nah.. Bagaimana dengan gado-gado uleg dari Ibu Yati jalan Panjunan kota Cirebon ini? Menurut penulis Cirebon Kuliner, rasanya tergolong lumayan, dengan isi gado-gado yang cukup komplit dan mengenyangkan karena ada lontong, kentang, dan mie sebagai sumber karbohidratnya, serta isian umum gado-gado seperti sayuran, tahu, dan bumbu kacang yang diuleg, dilengkapi dengan emping dan kerupuk udang.

Soal harga juga cukup terangkau, hanya Rp 10.000,- saja untuk satu porsi gado-gado uleg ala Ibu Yati jalan Panjunan kota Cirebon ini. Jadi, bagi pembaca Cirebon Kuliner yang gemar gado-gado uleg, bisa coba Gado-Gado Uleg "Ibu Yati" di jalan Panjunan kota Cirebon.


Gado-Gado Uleg ala Ibu Yati jalan Panjunan kota Cirebon

Bakmi Jawa "Sumber Kasih"


Sebetulnya, apa perbedaan mie baso, mie yamien, mie ayam, dan bakmi? Persoalan ini sudah pernah dibahas penulis Cirebon Kuliner dalam beberapa artikel ulasan yang membahas kuliner mie yang ada di Cirebon. Baik, penulis Cirebon Kuliner ulas kembali sebelum membahas Bakmi Jawa "Sumber Kasih" lebih jauh lagi. Namun sebelumnya, penulis Cirebon Kuliner ingin menyampaikan bahwa yang penulis jelaskan bukanlah berdasarkan keahlian seseorang di bidang kuliner, namun hanya berdasarkan pengalaman mencicipi, dan membedakan masing-masing hidangan yang disebut mie ayam, mie yamien, mie baso, dan bakmi. Yang penulis Cirebon Kuliner tahu, mie baso adalah hidangan mie yang diberi topping atau isi sayuran seperti tauge, dan sesim, lengkap dengan kuah, dan dihidangkan langsung satu mangkok. Contohnya seperti mie baso Solo, atau mie baso Malang.

Mie ayam adalah hidangan kuliner mie, tanpa kuah, dengan bumbu, dengan topping suwiran daging ayam yang berbumbu, dengan sayuran sesim, lengkap dengan saos tomat dan bawang goreng di atasnya. Dan mie yamien adalah hidangan mie berbumbu - yang bumbunya berbeda dengan mie ayam - dengan topping suwiran daging ayam - suwiran daging ayamnya pun berbumbu berbeda dengan mie ayam - disajikan dengan kuah di mangkok terpisah, lengkap dengan isian lainnya seperti pangsit kukus, pangsit goreng, siomay kukus, tahu, baso tahu, juga sayuran seperti sesim, acar mentimun. Mie yamien juga biasanya memiliki varian mie yamien jamur sebagai pelengkapnya. Nah, sedangkan bakmi sebetulnya sama dengan mie yamien, namun ada bakmi asli Jawa, sehingga ada yang membedakan.

Bakmi Jawa, juga ada di kota Cirebon, yaitu Bakmi Jawa "Sumber Kasih" yang sesuai namanya, terletak di jalan Siliwangi, di depan Rumah Sakit Bersalin "Sumber Kasih." Warung sederhana kaki lima ini tidak hanya menyediakan bakmi Jawa saja tentunya, ada nasi goreng, kwetiaw, otokowok, dan lain-lain. Namun penulis Cirebon Kuliner lebih tertarik untuk membahas bakmi Jawa-nya saja. Saat berkunjung pun penulis Cirebon Kuliner memesan satu porsi bakmi Jawa goreng ala warung Bakmi Jawa "Sumber Kasih" jalan Siliwangi. Yup, ada dua pilihan, bakmi Jawa goreng, atau bakmi Jawa dengan kuah.



Bakmi Jawa ala Bakmi Jawa "Sumber Kasih" jalan Siliwangi kota Cirebon ini dijual dengan harga hanya Rp 10.000,- saja per porsinya. Secara "konsep", bakmi Jawa sama saja dengan mie yamie, yaitu mie berbumbu dengan topping suwiran daging ayam. Namun bedanya, mie dalam bakmi Jawa dimasak dengan cara digoreng bersama bumbu, dan sayuran, baru dihidangkan dengan diberi suwiran daging ayam di atasnya. Soal rasa, menurut penulis Cirebon Kuliner, sangat tipikal Jawa, yaitu sederhana, namun bisa bikin rindu.

Iya, dengan harga yang murah, dan rasa yang sederhana namun tetap nikmat ini, bakmi Jawa ala Bakmi Jawa "Sumber Kasih" jalan Siliwangi kota Cirebon ini memang memiliki sifat bisa membuat penikmatnya merindu. Memang, hidangan kuliner sederhana dan tradisional semacam ini selalu memiliki tempat tersendiri. Pembaca Cirebon Kuliner penasaran? Silahkan datang dan coba sendiri, bakmi Jawa ala Bakmi Jawa "Sumber Kasih" di jalan Siliwangi kota Cirebon, di depan Rumah Sakit "Sumber Kasih."

Bakmi Goreng Jawa ala warung Bakmi Jawa "Sumber Kasih" jalan Siliwangi kota Cirebon

"Hisana" Fried Chicken


Hidangan kuliner ayam goreng sudah menjadi hidangan sejuta umat di dunia, termasuk di Indonesia. Dari mulai ayam goreng tradisional ala Jawa atau Sunda, hingga ayam goreng dengan sentuhan modern ala Barat yang semakin populer semenjak kemunculan brand terkenal dari Barat. Hingga kini, usaha kuliner yang menjual ayam goreg crispy ala fried chicken (ayam goreng ala Barat) ini sudah sangat menjamur di Indonesia.

Di setiap kota, pasti ada saja masyarakat yang membuka usaha berjualan ayam goreng crispy di pinggir jalan dengan gerobak sederhana. Sampai ada beberapa merk yang sudah bersistem franchise atau waralaba, salah satunya adalah "Hisana" Fried Chicken. Di kota Cirebon sendiri, paling tidak, penulis Cirebon Kuliner melihat ada satu counter "Hisana" Fried Chicken yang berlokasi di jalan Majasem kota Cirebon.

"Hisana" Fried Chicken di jalan Majasem kota Cirebon ini merupakan counter kecil sederhana yang menjual fried chicken ala "Hisana" dengan cara take-away. Penulis Cirebon Kuliner sendiri akhirnya tertarik untuk datang berkunjung dan mencoba ayam gorengnya setelah beberapa kali melintas, "Hisana" Fried Chicken jalan Majasem kota Cirebon ini hampir setiap saat ramai.




Pada saat datang berkunjung, penulis Cirebon Kuliner melihat ayam goreng ala "Hisana" ini terlihat secara fisik lebih menarik dibanding merk-merk lain yang menjual fried chicken pinggir jalan. Iya, ayam gorengnya terlihat lebih menarik, tidak pucat, terlihat lebih crispy, dan terlihat lebih mirip dengan fried chicken milik merk-merk yang lebih populer. Dari harga pun, "Hisana" Fried Chicken menyajikan harga yang sangat kompetitif, dan sangat terjangkau tentunya.

Kisaran harga "Hisana" Fried Chicken jalan Majasem kota Cirebon ini adalah hanya Rp 5.000,-an saja per potongnya! Dan hanya berkisar Rp 7.500,-an saja dengan tambahan satu porsi nasi! Siapa yang tidak tertarik. Penulis Cirebon Kuliner pun memesan ayam goreng ala "Hisana" Fried Chicken ini. Dan setelah mencicipi, menurut penulis Cirebon Kuliner, fried chicken ala "Hisana" Fried Chicken ini tergolong di atas standar fried chicken ala pinggir jalan kebanyakan di Indonesia!

Rasanya lebih berbumbu, tidak plain, lebih gurih. Dengan rasa yang tergolong enak, dan disandingkan dengan harga yang sangat terjangkau, tidak heran jika "Hisana" Fried Chicken di jalan Majasem kota Cirebon ini selalu ramai didatangi para pelanggannya. Penasaran? Silahkan datang kunjungi "Hisana" Fried Chicken di jalan Majasem kota Cirebon, sebelah kanan jalan, setalah komplek perumahan GSP dari arah jalan Perjuangan kota Cirebon.


Gado-Gado Uleg Jln. Siliwangi


Gado-Gado hanyalah salah satu dari sekian banyak kuliner asal tanah air kita Indonesia. Yang penulis Cirebon Kuliner tahu, ada dua jenis gado-gado secara garis besar, yaitu gado-gado uleg, dan gado-gado siram atau biasa disebut juga gado-gado ayam. Penulis Cirebon Kuliner sendiri sudah beberapa kali menulis ulasan mengenai kuliner gado-gado yang populer di kota Cirebon. Sekarang satu lagi penjual gado-gado yang menurut penulis Cirebon Kuliner layak dicoba!

Adalah Gado-Gado Uleg Jalan Siliwangi yang penulis Cirebon Kuliner rekomendasikan kali ini. Dimana tepatnya? Persis di samping Gang Tanda Barat II, di samping alun-alun Kejaksan jalan Siliwangi, di seberang RS Sumber Kasih kota Cirebon. Gado-Gado Uleg Jalan Siliwangi ini dijual dengan gerobak sederhana oleh seorang Ibu. Jangan lihat penampilannya, mari coba dulu!



Saat datang berkunjung, penulis Cirebon Kuliner mencoba satu porsi gado-gado uleg seharga Rp 10.000,- saja. Oiya, Gado-Gado Uleg Jalan Siliwangi ini biasa buka dari pagi sekitar pukul 9 sampai sore pukul 4. Dari cara membuatnya, sampai penampilannya, ini memang jelas gado-gado uleg, bukan gado-gado siram atau gado-gado ayam.

Setelah mencoba, menurut penulis Cirebon Kuliner, Gado-Gado Uleg Jalan Siliwangi kota Cirebon ini memang enak sekali. Murah, nikmat, dan di pinggir jalan, sangat Indonesia kan? Bisa dinikmati dipagi hari sebagai sarapan, atau disiang hari sebagai makan siang, atau sore hari sebagai cemilan berat. Ada pembaca Cirebon Kuliner yang gemar gado-gado uleg? Silahkan coba Gado-Gado Uleg Jalan Siliwangi ini!


Mie Baso "Kliwon"


Di kota Cirebon, tentu banyak sekali penjual kuliner mie, dari mulai mie baso, mie ayam, mie yamien, termasuk bakmi yang sebetulnya sama dengan mie yamien. Penulis Cirebon Kuliner sendiri sudah banyak sekali menulis ulasan mengenai hidangan kuliner dari mie ini. Dan ini satu lagi, Mie Baso "Kliwon" di daerah Kalitanjung kota Cirebon.

Bagi masyarakat kota Cirebon yang gemar menyantap mie baso, tentu sudah tidak asing lagi dengan naman Mie Baso "Kliwon" karena warung cabangnya sudah ada beberapa di kota dan kabupaten Cirebon. Yang penulis Cirebon Kuliner kunjungi adalah warung Mie Baso "Kliwon" yang berlokasi di daerah Kalitanjung kota Cirebon.

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner melihat warung Mie Baso "Kliwon" ini menawarkan dua macam hidangan mie, yaitu mie baso dan mie ayam. Apa bedanya? Penulis Cirebon Kuliner sudah pernah menulis perbedaannya di artikel ulasan Mie Baso "Jalan Pandesan" kota Cirebon. Perbedaannya adalah, mie baso dihidangkan langsung dengan kuah berbumbu, komplit dengan isian baso, dan sayuran, dengan varian baso ceker, baso urat, babat, dll. Mie ayam tidak memiliki kuah, mie-nya berbumbu, dengan topping suwiran daging ayam berbumbu.



Sedangkan mie yamien atau bakmi adalah mie berbumbu (yang bumbunya berbeda dengan mie ayam), dengan topping suwiran daging ayam yang juga berbumbu berbeda dengan suwiran daging ayam pada mie ayam, atau ada juga mie yamien dengan varian topping jamur. Mie yamien atau bakmi biasa disajikan dengan kuah terpisah berisi baso, tahu, dan siomay kukus.

Nah, seperti yang tadi sudah ditulis, warung Mie Baso "Kliwon" menjual hidangan kuliner mie baso dan mie ayam. Saat datang berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan mie baso komplit. Setelah mencoba, betul, tidak heran jika warung Mie Baso "Kliwon" sudah memiliki banyak cabang dan semuanya relatif ramai dan bisa bertahan dengan pelanggan setia, karena rasanya memang tergolong enak sekali, juga ditambah harga yang relatif murah, dan tempat yang nyaman, dan luas. Bagi penggemar mie baso yang belum pernah mencoba, jangan ragu, silahkan datang kunjungi warung Mie Baso "Kliwon" terdekat di kota atau kabupaten Cirebon.


Mie Baso "Jln. Pandesan"


Pembaca Cirebon Kuliner mungkin bingung, ini mie baso di jalan Pandesan yang mana? Karena cukup banyak penjual kuliner mie di kawasn jalan Pandesan kota Cirebon. Penulis Cirebon Kuliner sendiri sudah banyak membuat ulasan mengenai penjual mie di jalan Pandesan, terutama mie yamien. Dan Mie Baso "Jalan Pandesan" ini adalah penjual mie baso yang biasa mangkal di sebuah gang kecil di jalan Pandesan, yang masih menggunakan gerobak sederhana.

Mie Baso "Jalan Pandesan" ini menjual mie baso dan mie ayam, yang tentunya berbeda. Iya, mie baso, mie ayam, dan mie yamien adalah hidangan kuliner yang berbeda. Untuk mudahnya, mie baso adalah mie baso yang kita kenal seperti mie baso khas Solo yang disajikan langsung dengan kuah dan sayur, sedangkan mie ayam adalah mie dengan topping suwiran daging ayam yang telah diberi bumbu. Sedangkan mie yamien adalah mie dengan bumbu yang berbeda dengan mie ayam, suwiran daging ayamnya juga berbeda, begitu juga pelengkapnya, biasanya mie yamien dilengkapi dengan kuah terpisah, lengkap dengan baso, tahu, dan siomay kukus.

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner mencoba satu porsi mie baso dan satu porsi mie ayam. Bisa dilihat dari gambarnya, mie baso dan mie ayam itu berbeda, begitu juga dengan mie yamien yang gambar-gambarnya bisa dilihat pembaca Cirebon Kuliner di ulasan-ulasan berbeda di situs ini. Mie Baso "Jalan Pandesan" ini termasuk selalu ramai dibeli pelanggan setianya. Soal rasa menurut penulis Cirebon Kuliner, tergolong enak. Namun begitu, tetap, masing-masing kita tentunya memiliki pilihan favorit tersendir untuk masing-masing pilihan kuliner dari mie ini. Silahkan mencoba.


Mie Ayam


Mie Baso

Susu Murni Organik "Moo"


Penulis Cirebon Kuliner yakin, masyarakat Indonesia sangat sadar akan pentingnya nutrisi yang baik bagi kesehatan. Dan tentunya, makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita adalah faktor utama yang mempengaruhi tingkat kesehatan kita. Salah satu yang terpenting yang dibutuhkan tubuh kita adalah susu, susu murni tentunya yang tidak mengandung bahan kimia appun.

Nah, di kota Cirebon saat ini sudah ada penjual susu murni yang organik. Organiknya dari mana? Dari makanan sapi si penghasil susunya tentunya. Adalah Susu Organik "Moo" yang terletak di salah satu sudut jalan DR Cipto kota Cirebon yang menawarkan minuman susu murni organik. Susu yang dijual berasal dari peternakan sendiri dimana sapi-sapi penghasil susunya diberi pakan organik yang tentunya non bahan kimia, sehingga menambah nilai lebih pada susu yang dihasilkan.

Penulis Cirebon Kuliner sendiri sudah menyempatkan diri untuk datang berkunjung dan mencoba susu murni dari Susu Murni Organik "Moo" jalan Cipto kota Cirebon ini. Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner memesan satu gelas susu murni tanpa rasa (original). Dan betul saja, beda dengan susu murni pada umumnya, rasa susu murni organik ini terasa lebih segar. Soal manfaat juga tentunya lebih baik bagi tubuh kita. Jadi, bagi masyarakat kota Cirebon yang sedang mencari susu murni organik, susu murni yang betul-betul menyehatkan, silahkan coba datang kunjungi kedai kecil Susu Murni Organik "Moo" di jalan DR Cipto kota Cirebon, persis di samping jembatan jalan Cipto sebelum dekat Carrefour.




"Super" Fried Chicken


Semenjak kemunculannya, kuliner ayam goreng ala Barat yang lebih populer dengan embel-embel fried chicken di belakangnya, langsung menjadi idola di Indonesia karena rasanya yang memang enak. Seiring waktu, semakin banyak merk-merk fried chicken lainnya di berbagai negara, juga di Indonesia. Seiring waktu pula, masyarakat Indonesia mulai meniru-niru olahan ayam goreng ala Barat ini. Pembaca Cirebon Kuliner sendiri tentu kini sudah mudah melihat atau menemukan banyak sekali pedagang kaki lima pinggir jalan yang menjual ayam goreng ala Barat ini.

Dan saat ini, paling tidak di kota Cirebon, nampaknya satu merk ayam goreng fried chicken ala Barat dengan konsep kaki lima yang paling populer adalah "Super" Fried Chicken. Apabila pembaca Cirebon Kuliner sering jalan-jalan melewati jalan-jalan kecil di kota Cirebon, mungkin sering melihat banyak sekali cabang-cabang kecil kaki lima "Super" Fried Chicken. Dan salah satunya yang penulis Cirebon Kuliner kunjungi adalah kedai kecil "Super" Fried Chicken di jalan Arya Kemuning kota Cirebon.



Seperti yang sudah ditulis di awal, banyak pedagang ayam goreng serupa di kaki lima di banyak kota di Indonesia, termasuk di Cirebon. Namun nampaknya, saat ini, baru "Super" Fried Chicken yang memiliki banyak cabang dengan konsep yang sedikit berbeda, yaitu dengan menyediakan sedikit space atau ruangan bagi pengunjung yang ingin makan di tempat, tidak di bawa pulang atau take away. Iya, penjual ayam goreng fried chicken lainnya kebanyakan hanya menjual ayam gorengnya dengan gerobak sederhana, sehingga pembeli tidak bisa langsung menikmati hidangan langsung di tempat dengan meja dan kursi makan yang layak.

Ini adalah salah satu kelebihan "Super" Fried Chicken tentunya. Saat mengunjungi salah satu kedai "Super" Fried Chicken di jalan Arya Kemuning kota Cirebon, penulis memesan menu paket seharga Rp 7.500,- saja yang isinya, 1 nasi, 1 ayam goreng, dan 1 air mineral kemasan gelas plastik. Dan dengan menambah Rp 2.500,-, penulis Cirebon Kuliner menambahkan 1 porsi tambahan nasi lagi. Total yang harus dibayar adalah Rp 9.500,- saja. harga yang tentunya sangat murah saat ini. Tidak heran, "Super" Fried Chicken memiliki banyak pelanggan.

Soal rasa, tentunya tidak adil jika kita membandingkan "Super" Fried Chicken dengan merk-merk yang lebih ternama. Rasa dari ayam goreng ala "Super" Fried Chicken ini tentunya lumayan saja untuk ukuran kuliner kaki lima yang merakyat, sederhana, dengan harga murah nan terjangkau untuk masyarakat Indonesia. Tidak buruk, dan tentunya yang terpenting, layak konsumsi. Dan kehadiran "Super" Fried Chicken ini tentunya dapat membantu masyarakat berkemampuan ekonomi biasa-biasa saja, untuk dapat menikmati ayam goreng fried chicken dengan harga yang sangat terjangkau. Silahkan mencoba.

Es Pisang Ijo "Angin Mamiri"


Bagi yang belum tahu tentang apa itu Es Pisang Ijo, ini adalah kuliner khas Makasar yang sudah populer di Indonesia. Pisang yang dibalut adonan berwarna hijau, dihidangkan dengan bubur sumsum dan disiram sirup, kemudian diberi es batu. Rasanya? Tentu nikmat dan sangat menyegarkan. Bagaimana dengan di Cirebon? Sebetulnya, beberapa bulan kemarin di sekitaran tahun 2012 sampai 2013 ada beberapa penjual Es Pisang Ijo khas Makasar di kota Cirebon, namun sebagian besar (terutama yang rasanya enak) sudah tidak terlihat berjualan lagi.

Namun jangan khawatir, bagi pembaca Cirebon Kuliner yang gemar menikmati Es Pisang Ijo khas Makasar, penulis Cirebon Kuliner sudah menemukan lagi satu penjual kuliner segar ini di salah satu sudut jalan Perjuangan, tidak jauh dari komplek perumahan GSP kota Cirebon, namanya Es Pisang Ijo "Angin Mamiri". Dan menurut penulis Cirebon Kuliner, salah satu fakta yang menarik adalah bahwa Es Pisang Ijo "Angin Mamiri" dimiliki, dibuat dan dijual oleh orang asli Bugis Makasar.

Es Pisang Ijo "Angin Mamiri" jalan Perjuangan kota Cirebon ini memang belum terlalu lama berjualan, sampai artikel ulasan ini dibuat, baru sekitar 6 bulanan saja berjualan. Dan saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung, penulis juga menemukan bahwa Es Pisang Ijo "Angin Mamiri" ini juga menjual dua lagi olahan pisang khas Makasar, yaitu Pisang Epe dan Pisang Sanggara Balanda. Mengenai Pisang Epe dan Pisang Sanggara Balanda, akan dibahas lebih lanjut.

Saat berkunjung, penulis Cirebon Kuliner hanya mencoba Es Pisang Ijo khas Makasar ala Es Pisang Ijo "Angin Mamiri" saja, karena penulis Cirebon Kuliner sendiri sudah lama mencari penjual Es Pisang Ijo di kota Cirebon yang kini sulit dicari. Dari penampilan, sudah sangat menarik dan membuat kita menelan lidah, terlebih rasanya, sungguh nikmat menyegarkan di tenggorokan, segar sekali. Dengan harga Rp 7.000,- saja, kita bisa menikmati Es Pisang Ijo khas Makasar, asli bikinan orang Makasar-nya lho...

Satu informasi yang juga mungkin bisa bermanfaat bagi masyarakat kota Cirebon, Es Pisang Ijo "Angin Mamiri" bekerja sama dengan Mom Non DORAYAKI dalam menjual Es Pisang Ijo buatannya. Iya, Mom Non DORAYAKI yang sebelumnya sudah dibahas penulis Cirebon Kuliner, berjualan Dorayaki otentik Jepang dan Lumpia Basah khas Bandung, kini juga menjual Es Pisang Ijo khas Makasar ala  Es Pisang Ijo "Angin Mamiri". Jadi, bagi masyarakat kota Cirebon yang ingin delivery Es Pisang Ijo khas Makasar, bisa menghubungi Mom Non DORAYAKI.






Ayam "Pejuang"


Ayam sudah menjadi makanan favorit banyak masyarakat di berbagai negara, tentu termasuk Indonesia. Pembaca Cirebon Kuliner tentu bisa menyebutkan sendiri apa saja olahan ayam dalam bentuk kuliner yang bisa kita santap, dari yang paling sederhana seperti ayam goreng, sampai hidangan mewah yang disajikan di hotel-hotel bintang lima. Di kota Cirebon sendiri, saat ini begitu banyak pengusaha dunia kuliner yang menjual kuliner berbahan dasar ayam dengan kreasinya masing-masing dan daya tariknya masing-masing.

Salah satunya adalah Ayam "Pejuang" yang terletak di jalan Perjuangan, Majasem kota Cirebon. Di warung makan Ayan "Pejuang" ini, pengunjung ditawari berbagai kuliner berbahan dasar ayam, bebek, juga ada seafood. Dari mulai ayam penyet, sampai seafood dari olahan ikan kakap, dan ada juga ikan etong. Selain itu, warung makan Ayam "Pejuang" juga menyajikan sop ayam, dan sayur asem. Menu kuliner yang sangat umum sebetulnya, tapi tetap saja menarik untuk dicoba, kan?


Penulis Cirebon Kuliner sendiri belum mendapatkan informasi, mengapa dinamakan Ayam "Pejuang". Mungkin, karena lokasinya yang terletak di jalan Perjuangan kota Cirebon. Mari langsung bahas rasa, dan harga saja. Saat berkunjung ke warung makan Ayam "Pejuang", penulis Cirebon Kuliner memesan menu paket yang isinya ayam penyet (goreng/bakar), lalab, sambal, teh tawar hangat, dengan bonus tahu dan tempe. Harganya, Rp 13.000,- saja!

Harga ini tentu relatif sangat murah, mengingat tempat makannya yang cukup nyaman, bersih, serta rasanya yang enak. Ayam gorengnya lumayan enak, sambal penyetnya pun lumayan enak, tahu tempenya pun tidak sekedar tahu tempe yang hambar tanpa rasa. Rp 13.000,- menurut penulis Cirebon Kuliner sangat layak. Jadi, bagi penikmat kuliner ayam, bebek, atau seafood, yang ingin makan dengan rasa yang enak, harga murah, dan tempat nyaman, bisa coba di warung makan Ayam "Pejuang" di jalan Perjuangan nomor 1 kota Cirebon.


Mie Yamien "Ateng"


Seperti yang sudah berkali-kali penulis Cirebon Kuliner tuangkan, kota Cirebon memang surganya mie yamien, dengan ciri khasnya sendiri, terutama di wilayah jalan Pandesan. Dengan latar belakang sejarah yang memang pada awalnya dipopulerkan oleh warga Cirebon keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan jalan Pandesan dengan berjualan mie yamien dengan cara berkeliling maupun warungan, mie yamien khas Cirebon terus bertahan dan semakin populer hingga kini.

Salah satu mie yamien di jalan Pandesan adalah warung Mie Yamien "Ateng". Untuk informasi tamahan saja, sang pemilik yang biasa dipanggil dengan Bapak Ateng, memang sebelumnya telah lama bekerja sebagai karyawan sebuah mie yamien yang sudah terlebih dahulu ada lebih lama dan telah populer di salah satu sudut jalan Pandesan. Dan pada akhirnya Bapak Ateng memtuuskan untuk membuka sendiri usaha kuliner mie yamien dengan cita rasa khas Cirebon.

Walaupun di kawasan jalan Pandesan, jalan Pekalangan kota Cirebon ini terdapat banyak penjual mie yamien dengan penampilan yang berbeda-beda, dari mulai mie yamien dengan gerobak dorong tanpa tenda, kemudian mie yamien dengan warung sederhana, mie yamien yang sudah dalam bentuk warung permanen, nampaknya masyarakat kota Cirebon sudah memiliki mie yamien favorit masing-masing. Termasuk warung Mie Yamien "Ateng" ini, walaupun warungnya sederhana, namun sudah memiliki pelanggan setianya sendiri.


Mie Yamien "Ateng" dijual seharga Rp 10.000,- saja per mangkok, dengan tambahan Rp 1.000,- saja kita bisa mendapat tambahan satu pangsit goreng untuk semakin melengkapi sajian mie yamien ala Bapak Ateng ini. Saat penulis Cirebon Kuliner berkunjung, penulis memesan satu porsi mie yamien komplit dengan pangsit goreng. Saat pesanan datang, dari penampilan mie-nya, potongan daging ayamnya, sampai aroma dari kuah baso dan siomay rebusnya, lumayan menggugah selerah.

Terlebih, setelah nyruput kuah baso itu, sungguh, rasa yang tergolong enak sekali untuk ukuran warung kaki lima sederhana seperti ini. Begitu juga dengan mie-nya itu sendiri, bumbu mie yamiennya tidak berlebihan, tidak terlalu manis, pas saja. Tidak heran kalau warung Mie Yamien "Ateng" ini bisa bertahan hingga kini semenjak kurang lebih mulai berdiri dari tahun 2008. Walaupun ada banyak pesaing dengan penampilan tempat yang lebih nyaman, tidak membuat warung Mie Yamien "Ateng" ini kehilangan pelanggan. Nah, bagi pembaca Cirebon Kuliner, khususnya yang gemar dengan mie yamien khas Cirebon, silahkan tentukan sendiri pilihan favorit mie yamien di kawasan jalan Pandesannya ya.



Terimakasih telah mengunjungi www.CirebonKuliner.com. Apabila berkenan, penulis CirebonKuliner.com berharap pembaca bersedia untuk menulis komentar yang positif atau kritik yang membangun, baik untuk kuliner/tempat makan yang diulas, ataupun juga untuk CirebonKuliner.com itu sendiri.